Bandar Bola

BOLAHOKY.COM – Apa yang paling dibutuhkan dalam sebuah peperangan? Perisai yang kuat atau pedang yang tajam?

Keduanya sama-sama vital. Tanpa perisai yang kuat, pedang yang tajam pun takkan ada gunanya, terutama dalam sebuah peperangan panjang.

Tak kalah penting adalah prajurit-prajurit tangguh yang bisa diandalkan untuk meraih kemenangan. Namun di balik itu semua, diperlukan juga seorang jenderal hebat yang sanggup memimpin pasukannya untuk meraih kemenangan demi kemenangan.

Seperti itulah gambaran sekilas tentang Manchester City, yang selangkah lagi bakal menggapai takhta liga tertinggi Inggris.

Premier League 2017/18 pekan ke-32, Manchester City melawat ke Goodison Park untuk menghadapi Everton. Ditunggu laga besar kontra Liverpool di perempat final Liga Champions, pasukan Josep Guardiola tancap gas dari menit awal dan langsung memimpin 3-0 di babak pertama lewat gol-gol Leroy Sane, Gabriel Jesus dan Raheem Sterling.

City praktis sudah mengamankan kemenangan hanya dalam satu babak. Setelah jeda, tempo permainan City sedikit menurun dan gawang mereka dibobol oleh Yannick Bolasie. Namun itu sudah cukup untuk membawa pulang tiga angka.

Di tempat lain, Manchester United – rival sekota sekaligus pesaing terdekat mereka – meraih kemenangan 2-0 atas Swansea City. Skenario manis pun membayang.

Dengan selisih 16 poin dan sama-sama menyisakan tujuh pertandingan, City pun tinggal selangkah lagi untuk mengunci gelar juara. City bisa melakukannya saat menjamu United dalam Manchester derby di Etihad Stadium pada 7 April mendatang.

Menang, City akan dinobatkan sebagai kampiun di rumah sendiri, dan di hadapan rival sekota mereka.

Dalam 31 pertandingan yang sudah mereka mainkan, Manchester City telah mengemas 27 kemenangan dan baru sekali menelan kekalahan (3-4 vs Liverpool di Anfield). Sejauh ini, City telah mencetak 88 gol, lebih banyak dibandingkan tim-tim lainnya. City juga baru kebobolan 21 gol, paling sedikit dibandingkan rival-rivalnya.

Dengan pertahanan terkuat dan serangan tertajam itu, City melibas hampir siapa saja yang ada di hadapan mereka. Posisi puncak pun mereka kuasai bahkan sejak pekan ke-5.

Bagaimana City bisa sampai begitu dominan?

Tak sedikit yang menilai kalau kekuatan finansial adalah faktor utama di balik hebatnya sepak terjang City. Sekitar £221,5 juta digelontorkan untuk memboyong bek AS Monaco Benjamin Mendy, bek Tottenham Kyle Walker, bek Real Madrid Danilo, kiper Benfica Ederson dan gelandang Monaco Bernardo Silva ke Etihad Stadium di musim panas.

Angka itu merupakan yang tertinggi di bursa transfer musim panas 2017, bahkan mengalahkan PSG (£214,2 juta), AC Milan (£178,4 juta), Chelsea (£155,4 juta) maupun Manchester United (£145,8 juta). Musim dingin, City pun masih menambah kedalaman skuat mereka dengan merekrut bek Aymeric Laporte dari Athletic Bilbao senilai £57 juta.

Ya, City sudah belanja besar-besaran. Namun salah besar kalau kita menganggap kesuksesan City ini semata-mata HANYA karena uang. Lihat saja Chelsea atau Manchester United.

“Beberapa klub menghabiskan £300 juta atau £400 juta untuk dua pemain. Kami menggunakannya untuk enam pemain. Jika ingin bersaing di level tertinggi, Anda perlu belanja. Kami menerima semua kritikan, tapi yang paling penting rekrutan-rekrutan baru itu cocok dengan klub ini dan tampil dengan baik,” kata Guardiola setelah mendatangkan Laporte pada Januari lalu.

Manchester City memiliki skuat berisikan pemain-pemain top dunia. Namun menyatukan mereka semua hingga membentuk sebuah tim yang tangguh bukanlah pekerjaan mudah.

Di sinilah kehebatan Josep Guardiola.

Guardiola sudah membuktikan kalau dia mampu menangani klub besar bertabur bintang. Sebagai pelatih Barcelona, Guardiola meraih tiga gelar La Liga. Sebagai pelatih Bayern Munchen, Guardiola juga tiga kali menjuarai Bundesliga.

Kali ini, Guardiola bakal menaklukkan Premier League.

Guardiola ditunjuk menjadi manajer Manchester City pada awal musim 2016/17, sebagai pengganti Manuel Pellegrini. Musim pertamanya di Inggris bisa dibilang sebagai kegagalan.

Di Premier League, City finis peringkat tiga. Di FA Cup, City dihentikan Arsenal di semifinal. Di Piala Liga, City dikandaskan Manchester United di putaran keempat. Di Liga Champions, City tersingkir oleh AS Monaco di babak 16 besar. Guardiola finish tanpa trofi, sesuatu yang tak pernah dialaminya selama melatih Barcelona maupun Bayern.

Kegagalan itu bukan tanpa sebab. Salah satu alasannya adalah Guardiola terpaksa bermain dengan skuat warisan Pellegrini. Dengan pemain-pemain yang kebanyakan bukan pilihannya sendiri, Guardiola kesulitan menemukan formasi dan komposisi yang pas.

Selain itu, Guardiola juga butuh waktu untuk menanamkan filosofi sepakbolanya.

“Musim lalu, saya bermain dengan delapan atau sembilan di Premier League yang didatangkan oleh Manuel Pellegrini,” kata Guardiola kepada The Mirror beberapa waktu lalu.

“Mereka pemain-pemain yang bagus, tapi tim itu butuh peremajaan. Itu tim yang sukses, tapi usianya terus bertambah. Itu merupakan salah satu tim tertua di Premier League.”

“Sekarang, Txiki [Begiristain, direktur olahraga City] berusaha melakukan perubahan-perubahan yang diperlukan untuk memperkuat tim. Jadi, kami melakukan peremajaan dengan Gabriel Jesus, Ilkay Gundogan dan Leroy Sane, dan kami akan terus melakukannya.”