Bandar Bola


BOLAHOKY.COM – “Tidak ada tim yang pernah menjuarai Liga Champions dua kali beruntun dan ternyata kami melakukannya. Mengapa kami tidak bisa menjuarai yang ketiga?”

Itulah pertanyaan retoris yang diapungkan oleh kapten Real Madrid, Sergio Ramos sesaat setelah timnya mengalahkan PSG pada dua leg 16 besar Liga Champions 2017/18 lalu (agg. 5-2) dan berhak melaju ke perempat final Liga Champions.

Saat ini, Madrid tengah bersiap untuk menjamu Juventus pada leg kedua perempat final, Kamis (12/4) mendatang setelah meraih kemenangan meyakinkan 3-0 di leg pertama lalu. Peluang Real Madrid untuk menembus semifinal pun terbuka lebar dan aroma juara sudah mulai terendus ringan di udara.

Seandainya Madrid berhasil mewujudkannya, mereka akan mencetak sejarah baru sebagai satu-satunya tim yang mampu menjuarai Liga Champions tiga musim beruntun. Torehan yang mungkin akan sulit dipecahkan oleh tim-tim lain di masa mendatang.

Mengingat Madrid membutuhkan tiga pertandingan lagi untuk mencapai final – dengan asumsi mereka mampu mengalahkan siapapun lawan kuat di semifinal nanti – ada baiknya menengok ke belakang dan mengamati kembali laju Real Madrid di Liga Champions musim 2015/16 dan 2016/17, yakni saat Madrid mampu menjawab keraguan dan kemudian menjadi juara di dua musim berturut-turut.

Real Madrid di Liga Champions 2015-2016
Musim 2015/16. Tidak ada yang percaya Real Madrid mampu menjuarai Liga Champions. Betapa tidak, musim itu berjalan cukup sulit bagi Real Madrid. Kala itu, Los Blancos membuat keputusan yang cukup kontroversial dengan memecat Rafael Benitez setelah hanya tujuh bulan bekerja sama.

Sebagai gantinya, Zinedine Zidane pun ditunjuk sebagai suksesor Benitez. Keputusan yang kontroversial dan mengundang banyak pertanyaan, sebab sosok asal Prancis itu sama sekali belum memiliki pengalaman melatih tim senior, meskipun sempat menjadi asisten pelatih Carlo Ancelotti beberapa waktu sebelumnya. Penunjukkan Zidane ini pun dinilai sebagai perjudian sang Presiden klub, Florentino Perez.

Musim itu, Real Madrid senantiasa diselimuti awan gelap keraguan, skuat yang tidak stabil, pelatih yang belum berpengalaman dan ketergantungan pada Cristiano Ronaldo. Keraguan tersebut merebak sampai di Liga Champions, kala itu mulai dari babak 16 besar sampai final, Madrid dapat disebut cukup beruntung.